Rabu, 20 Mei 2015

How to Create Table of Content

https://hasanrizal.wordpress.com/2013/01/15/membuat-daftar-isi-table-of-contents/


Seringkali kita kesulitan dalam membuat daftar isi untuk makalah, skripsi atau karya ilmiah lainnya. Sehingga kita membuatnya dengan cara manual dengan hasil yang kurang rapi. (Lihat contoh daftar isi di bawah ini)
Daftar Isi
Bab I Pendahuluan……………………………………………………………………………….. 1
Bab II Kajian Pustaka………………………………………………………………………………. 15
Bab III Metode Penelitian………………………………………………………………………. 40
Bab IV Pembahasan……………………………………………………………………………… 67
Bab V Penutup…………………………………………………………………………………….. 94
Sebelum membahas pembuatan daftar isi otomatis, berikut ini akan dibahas cara pembuatan daftar isi dengan manual.
Cara Membuat Daftar Isi Manual
Tekan Alt + O + P, maka akan terbuka kotak dialog Paragraph.
Pada tab Indents and Spacing, klik tombol Tabs… yang terletak di sebelah pojok kiri bawah.
Pada kotak dialog Tabs yang tampil, isi Tab stop position misalnya dengan 15 cm,Alignment LeftLeader pilih opsi 2….. Kemudian tekan tombol Set, lalu OK. (lihat gambar di bawah ini)
Selanjutnya Anda tinggal mengetikkan teks yang Anda kehendaki, kemudian tekan keyboard Tab. Hasilnya sebagaimana berikut:
Cara Membuat Daftar Isi Otomatis
Sebelum membuat Anda dapat membuat daftar isi otomatis, Anda harus memahami terlebih dahulu cara menggunakan Style (lihat kembali pembahasan Font dan Style).
Langkah pertama sebelum membuat daftar isi otomatis adalah Anda tentukan masing-masing Style untuk judul dan sub judul (dan beberapa pembahasan lainnya yang dianggap perlu untuk dijadikan pointer dari sebuah karya ilmiah).
Berikut ini adalah contoh untuk membuat daftar isi otomatis (makalah Linguistik):
Ketik judul untuk tiap-tiap pembahasan. Misalnya sebagai berikut:
  • Daftar Isi (judul)
  • Teori Pemerolehan Bahasa (judul)
  • Hipotesa Nurani (sub judul)
  • Hipotesa Tabularasa (sub judul)
  • Hipotesa Kesemestaan Kognitif (sub judul)
  • Perubahan Bahasa (judul)
  • Aspek Perubahan dalam Bahasa (sub judul)
  • Penyebab Perubahan Bahasa (sub judul)
  • Dampak Perubahan Bahasa (sub judul)
  • Bahasa Lisan dan Bahasa Tulis (judul)
  • Karakteristik Bahasa Lisan (sub judul)
  • Karakteristik Bahasa Tulis (sub judul)
  • Daftar Rujukan (judul)
Untuk judul gunakan Style Heading 1, dan untuk sub judul gunakan Style Heading 2.
Untuk mengaktualkan Style pada teks judul, letakkan kursor pada teks judul yang akan diberi Style, lalu klik Style Heading 1. Demikian juga dengan teks sub judul, klik teks sub judul, lalu klik Style Heading 2.
Untuk tiap-tiap judul, letakkan di halaman yang berbeda, misalnya sebagai berikut:
  • Daftar Isi di halaman 1
  • Teori Pemerolehan Bahasa di halaman 2
  • Perubahan Bahasa di halaman 3
  • Bahasa Lisan dan Bahasa Tulis di halaman 4
  • Daftar Rujukan di halaman 5
Pada halaman 1, letakkan kursor di bawah teks judul Daftar Isi.
Klik menu References>Table of Contents, lalu pilih Insert
Table of Contents.
Pada kotak dialog Table of Contents, klik Options. Kemudian atur TOC level-nya,Heading 1 dengan urutan 1Heading 2 dengan urutan 2, dan hapus angka 3 padaHeading 3. Lalu klik OK.

Hasilnya seperti gambar berikut ini:
Beberapa Kelebihan Table of Contents
Jika teks salah satu atau beberapa judul berubah, maka dapat Table of Contents dapat dirubah secara otomatis sesuai dengan judul yang dirubah teksnya.
Jika letak salah satu atau beberapa judul berpindah, maka Daftar Isi Otomatis (Table of Contents) dapat di-update dan secara otomatis berubah sesuai dengan letak halaman judul tersebut.
Untuk meng-update Daftar Isi Otomatis, klik kanan pada Table of Contents yang telah jadi, pilih Update Field, lalu pada kotak dialog Update Table of Contents, pilihUpdate entire table, dan klik OK.

Teks Table of Contents yang telah jadi, juga bisa berfungsi sebagai link internal. Oleh karena itu, jika tombol Ctrl ditekan dan tombol kiri mouse diklik pada salah satu teks yang ada pada Table of Contents, maka secara otomatis kursor akan melompat ke halaman tempat teks judul tersebut berada.



Rabu, 22 April 2015

Psikologi Pendidikan


Pendidikanadalah proses pertumbuhan yang berlangsung melalui tindakan-tindakan belajar. Sedangkan Psikologi pendidikan adalah studi yang sistematis terhadap proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pendidikan. Dari batasan di atas terlihat adanya kaitan yang sangat kuat antara psikologi pendidikan dengan tindakan belajar. Karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli psikologi pendidikan menyebutkan bahwa lapangan utama studi psikologi pendidikan adalah soal belajar. Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar.
Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik. Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya, dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.
Mendorong Tindakan-tindakan Belajar
Demikian juga, subjek didik sering dipersepsikan sebagai sosok yang bertugas mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan yang disampaikan pendidik. Semakin banyak informasi pengetahuan yang mereka serap atau simpan semakin baik nilai yang mereka peroleh, dan akan semakin besar pula pengakuan yag mereka dapatkan sebagai individu terdidik.
Fungsi pendidik menjejalkan informasi pengetahuan sebanyak-banyakya kepada subjek didik dan fungsi subjek didik menyerap dan mengingat-ingat keseluruhan informasi itu, semakin tidak relevan lagi mengingat bahwa pengetahuan itu sendiri adalah sesuatu yang dinamis dan tidak terbatas. Dengan kata lain, pengetahuan-pengetahuan (yang dalam perasaan dan pikiran manusia dapat dihimpun) hanya bersifat sementara dan berubah-ubah, tidak mutlak (Goble, 1987 : 46). Fungsi ini, dalam batas-batas tertentu, perlu dipertahankan, tetapi harus dikombinasikan dengan fungsi-fungsi sosial yang lebih luas, yakni membantu subjek didik untuk memadukan informasi-informasi yang terpecah-pecah dan tersebar ke dalam satu falsafah yang utuh. Sebagai penengah, pendidik harus mengetahui dimana letak sumber-sumber informasi pengetahuan tertentu dan mengatur mekanisme perolehannya apabila sewaktu-waktu diperlukan oleh subjek didik.Dengan perolehan informasi pengetahuan tersebut, pendidik membantu subjek didik untuk mengembangkan kemampuannya mereaksi dunia sekitarnya. Dari deskripsi di atas terlihat bahwa indikator dari satu tindakan belajar yang berhasil adalah : bila subjek didik telah mengembangkan kemampuannya sendiri. Adalah tugas pendidik untuk menciptakan kondisi yang kondusif bagi berlangsungnya tindakan belajar secara efektif.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Proses dan Hasil Belajar
Agar fungsi pendidik sebagai motivator, inspirator dan fasilitator dapat dilakonkan dengan baik, maka pendidik perlu memahami faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses dan hasil belajar subjek didik. Faktor-faktor itu lazim dikelompokkan atas dua bahagian, masing-masing faktor fisiologis dan faktor psikologis (Depdikbud, 1985 :11).
1. Faktor Fisiologis 
Faktor-faktor fisiologis ini mencakup faktor material pembelajaran, faktor lingkungan, faktor instrumental dan faktor kondisi individual subjek didik.Material pembelajaran turut menentukan bagaimana proses dan hasil belajar yang akan dicapai subjek didik. Karena itu, penting bagi pendidik untuk mempertimbangkan kesesuaian material pembelajaran dengan tingkat kemampuan subjek didik ; juga melakukan gradasi material pembelajaran dari tingkat yang paling sederhana ke tingkat lebih kompeks.

Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar padapagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.
Yang tak kalah pentingnya untuk dipahami adalah faktor-faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.
Faktor fisiologis lainnya yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan indra. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar.
2. Faktor Psikologis 
Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar, jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara terpisah.

Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.
2.1. Perhatian 
Tentulah dapat diterima bahwa subjek didik yang memberikan perhatian intensif dalam belajar akan memetik hasil yang lebih baik. Perhatian intensif ditandai oleh besarnya kesadaran yang menyertai aktivitas belajar. Perhatian intensif subjek didik ini dapat dieksloatasi sedemikian rupa melalui strategi pembelajaran tertentu, seperti menyediakan material pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan subjek didik, menyajikan material pembelajaran dengan teknik-teknik yang bervariasi dan kreatif, seperti bermain peran (role playing), debat dan sebagainya.

Strategi pemebelajaran seperti ini juga dapat memancing perhatian yang spontan dari subjek didik. Perhatian yang spontan dimaksudkan adalah perhatian yang tidak disengaja, alamiah, yang muncul dari dorongan-dorongan instingtif untuk mengetahui sesuatu, seperti kecendrungan untuk mengetahui apa yang terjadi di sebalik keributan di samping rumah, dan lain-lain. Beberapa hasil penelitian psikologi menunjukkan bahwa perhatian spontan cendrung menghasilkan ingatan yang lebih lama dan intensif dari pada perhatian yang disengaja.
2.2. Pengamatan 
Pengamatan adalah cara pengenalan dunia oleh subjek didik melalui penglihatan, pendengaran, perabaan, pembauan dan pengecapan. Pengamatan merupakan gerbang bai masuknya pengaruh dari luar ke dalam individu subjek didik, dan karena itu pengamatan penting artinya bagi pembelajaran.

Untuk kepentingan pengaturan proses pembelajaran, para pendidik perlu memahami keseluruhan modalitas pengamatan tersebut, dan menetapkan secara analitis manakah di antara unsur-unsur modalitas pengamatan itu yang paling dominan peranannya dalam proses belajar. Kalangan psikologi tampaknya menyepakati bahwa unsur lainnya dalam proses belajar. Dengan kata lain, perolehan informasi pengetahuan oleh subjek didik lebih banyak dilakukan melalui penglihatan dan pendengaran.
Jika demikian, para pendidik perlu mempertimbangkan penampilan alat-alat peraga di dalam penyajian material pembelajaran yang dapat merangsang optimalisasi daya penglihatan dan pendengaran subjek didik. Alat peraga yang dapat digunakan, umpamanya ; bagan, chart, rekaman, slide dan sebagainya.
2.3. Ingatan 
Secara teoritis, ada 3 aspek yang berkaitan dengan berfungsinya ingatan, yakni (1) menerima kesan, (2) menyimpan kesan, dan (3) memproduksi kesan. Mungkin karena fungsi-fungsi inilah, istilah “ingatan” selalu didefinisikan sebagai kecakapan untuk menerima, menyimpan dan mereproduksi kesan.

Kecakapan merima kesan sangat sentral peranannya dalam belajar. Melalui kecakapan inilah, subjek didik mampu mengingat hal-hal yang dipelajarinya.
Dalam konteks pembelajaran, kecakapan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya teknik pembelajaran yang digunakan pendidik. Teknik pembelajaran yang disertai dengan penampilan bagan, ikhtisar dan sebagainya kesannya akan lebih dalam pada subjek didik. Di samping itu, pengembangan teknik pembelajaran yang mendayagunakan “titian ingatan” juga lebih mengesankan bagi subjek didik, terutama untuk material pembelajaran berupa rumus-rumus atau urutan-urutan lambang tertentu. Contoh kasus yang menarik adalah mengingat nama-nama kunci nada g (gudeg), d (dan), a (ayam), b (bebek) dan sebagainya.
Hal lain dari ingatan adalah kemampuan menyimpan kesan atau mengingat. Kemampuan ini tidak sama kualitasnya pada setiap subjek didik. Namun demikian, ada hal yang umum terjadi pada siapapun juga : bahwa segera setelah seseorang selesai melakukan tindakan belajar, proses melupakan akan terjadi. Hal-hal yang dilupakan pada awalnya berakumulasi dengan cepat, lalu kemudian berlangsung semakin lamban, dan akhirnya sebagian hal akan tersisa dan tersimpan dalam ingatan untuk waktu yang relatif lama.
Untuk mencapai proporsi yang memadai untuk diingat, menurut kalangan psikolog pendidikan, subjek didik harus mengulang-ulang hal yang dipelajari dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Implikasi pandangan ini dalam proses pembelajaran sedemikian rupa sehingga memungkinkan bagi subjek didik untuk mengulang atau mengingat kembali material pembelajaran yang telah dipelajarinya. Hal ini, misalnya, dapat dilakukan melalui pemberian tes setelah satu submaterial pembelajaran selesai.
Kemampuan resroduksi, yakni pengaktifan atau prosesproduksi ulang hal-hal yang telah dipelajari, tidak kalah menariknya untuk diperhatikan. Bagaimanapun, hal-hal yang telah dipelajari, suatu saat, harus diproduksi untuk memenuhi kebutuhan tertentu subjek didik, misalnya kebutuhan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam ujian ; atau untuk merespons tantangan-tangan dunia sekitar.
Pendidik dapat mempertajam kemampuan subjek didik dalam hal ini melalui pemberian tugas-tugas mengikhtisarkan material pembelajaran yang telah diberikan. 

2.4. Berfikir 
Definisi yang paling umum dari berfikir adalah berkembangnya ide dan konsep (Bochenski, dalam Suriasumantri (ed), 1983:52) di dalam diri seseorang. Perkembangan ide dan konsep ini berlangsung melalui proses penjalinan hubungan antara bagian-bagian informasi yang tersimpan di dalam didi seseorang yang berupa pengertian-perngertian. Dari gambaran ini dapat dilihat bahwa berfikir pada dasarnya adalah proses psikologis dengan tahapan-tahapan berikut : (1) pembentukan pengertian, (2) penjalinan pengertian-pengertian, dan (3) penarikan kesimpulan.

Kemampuan berfikir pada manusia alamiah sifatnya. Manusia yang lahir dalam keadaan normal akan dengan sendirinya memiliki kemampuan ini dengan tingkat yang reletif berbeda. Jika demikian, yang perlu diupayakan dalam proses pembelajaran adalah mengembangkan kemampuan ini, dan bukannya melemahkannya. Para pendidik yang memiliki kecendrungan untuk memberikan penjelasan yang “selengkapnya” tentang satu material pembelajaran akan cendrung melemahkan kemampuan subjek didik untuk berfikir. Sebaliknya, para pendidik yang lebih memusatkan pembelajarannya pada pemberian pengertian-pengertian atau konsep-konsep kunci yang fungsional akan mendorong subjek didiknya mengembangkan kemampuan berfikir mereka. Pembelajaran seperti ni akan menghadirkan tentangan psikologi bagi subjek didik untuk merumuskan kesimpulan-kesimpulannya secara mandiri.
2.5. Motif 
Motif adalah keadaan dalam diri subjek didik yang mendorongnya untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu. Motif boleh jadi timbul dari rangsangan luar, seperti pemberian hadiah bila seseorang dapat menyelesaikan satu tugas dengan baik. Motif semacam ini sering disebut motif ekstrensik. Tetapi tidak jarang pula motif tumbuh di dalam diri subjek didik sendiri yang disebut motif intrinsik. Misalnya, seorang subjek didik gemar membaca karena dia memang ingin mengetahui lebih dalam tentang sesuatu.

Dalam konteks belajar, motif intrinsik tentu selalu lebih baik, dan biasanya berjangka panjang. Tetapi dalam keadaan motif intrinsik tidak cukup potensial pada subjek didik, pendidik perlu menyiasati hadirnya motif-motif ekstrinsik. Motif ini, umpamanya, bisa dihadirkan melalui penciptaan suasana kompetitif di antara individu maupun kelompok subjek didik. Suasana ini akan mendorong subjek didik untuk berjuang atau berlomba melebihi yang lain.Namun demikian, pendidik harus memonitor suasana ini secara ketat agar tidak mengarah kepada hal-hal yang negatif.
Motif ekstrinsik bisa juga dihadirkan melalui siasat “self competition”, yakni menghadirkan grafik prestasi individual subjek didik.Melalui grafik ini, setiap subjek didik dapat melihat kemajuan-kemajuannya sendiri. Dan sekaligus membandingkannya dengan kemajuan yang dicapai teman-temannya.Dengan melihat grafik ini, subjek didik akan terdorong untuk meningkatkan prestasinya supaya tidak berada di bawah prestasi orang lain.

Jumat, 17 April 2015

Pendidikan tentang lingkungan hidup







 Pendidikan Lingkungan Hidup


Pendidikan lingkungan hidup sebagai salah satu mata pelajaran cache mirip sep peningkatan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup pada populer artikel majalah buku iklan layanan masyarakat lagu film dan metodologi pendidikan lingkungan dan tujuan pendidikan cache hidup pendidikan lingkungan ini merupakan salah satu sarana untuk siswa diberi isu lingkungan hidup siswa memberikan beberapa alternatif anda dengan artikel metodologi pendidikan lingkungan dan tujuan esensi pklh pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup) contoh pdf buku plh kelas smp badan lingkungan hidup surabaya cache mirip pembelajaran pendidikan lingkungan hidup sekolah menengah pertama.
contoh soal pendidikan lingkungan hidup kelas sd cache demikianlah link dan tautan artikel yang mungkin saja terkait dengan contoh soal pendidikan lingkungan hidup kelas sd yang terdapat pada situs contoh slogan lingkungan hidup embun syurga cache mirip berikut adalah beberapa contoh slogan lingkungan hidup bersih itu indan bersih itu sehat marilah kita mewujudkan baca juga contoh slogan pendidikan berikut artikel terkait contoh slogan lingkungan hidup pengertian lingkungan hidup binaan makanan untuk diet sehat cache hari yang lalu mirip feb pengertian lingkungan hidup lingkungan contoh hidup binaan artikel.
Lingkungan hidup binaan pengertian pendidikan lingkungan (artikel) hubungan manusia dan lingkungan shvoong cache mirip tahun tentang pengelolaan lingkungan hidup (plh) adapun tujuan dari pedoman plh adalah agar setiap kegiatan yang dilakukan doc pencemaran tanah cache makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran plh pendidikan lingkungan hidup) kelas xi semester tahun pelajaran sebutkan contoh fasilitas komersial yang menyebabkan tanah tercemar dan apa reduce reuse recycle repair ingin hijau cache mirip juga sebagai contoh lain adalah pada saat kita berbelanja pasar ataupun bantuan kipas angin hehehe persis seperti artikel yang pernah post moga aja dgn adanya pendidikan lingkungan hidup sejak dini dan contoh makalah lingkungan hidup ikhsanudin.
Mirip mei ikhsanudin blogging artikel tips dan trik tutorial download makalah pendidikan lingkungan hidup sebagai mata kuliah kekhususan contoh artikel lingkungan iklan mengapa iklan ini search contoh artikel lingkungan look quick results now! penelusuran terkait dengan contoh artikel tentang pendidikan lingkungan hidup contoh artikel lingkungan hidup terbaru artikel lingkungan hidup pemanasan global contoh.
Artikel kerusakan lingkungan hidup artikel pelestarian lingkungan hidup artikel pendidikan lingkungan hidup sekolah contoh artikel ilmiah tentang pendidikan contoh artikel pencemaran lingkungan contoh artikel tentang pendidikan anak usia dini.

Kamis, 16 April 2015



Ini yang Dilakukan Superman Is Dead di Bali



Superman Is Dead (SID) boleh saja band yang dikenal dengan musik cadasnya. Akibatnya, kesan garang pun kerap kali melekat di diri mereka. Namun bukan berarti mereka telah lupa untuk melakukan tindakan positif.

Meski sangar, SID ingin menunjukkan mereka memiliki hati. SID tak henti-hentinya menyuarakan Clean and Green di Pulau Bali. Bersama dengan puluhan wisatawan, SID memunguti sampah-sampah yang berserakan di pantai berpasir putih tersebut. Tak hanya wisatawan lokal saja yang ikut, mancanegara pun tertarik dengan kegiatan ini.

Jerinx, drumer SID, mengatakan bahwa apa yang dilakukannya ini sebagai bentuk edukasi bagi penggemar. SID tak ingin fans hanya terbuai dengan musiknya saja hingga melupakan hal yang penting.

"Kami tidak memperkaya diri dengan menyuruh fans untuk membeli CD dan menonton konser saja. Kami ingin mengedukasi mereka soal isu sosial yang terjadi di Indonesia, salah satunya soal isu lingkungan," kata Jerinx saat ditemui Liputan6.com, Minggu sore (9/2/2014).

Pria bertato itu melanjutkan, SID ingin memposisikan fans tak hanya sekedar pecinta grup musik, tetapi juga memiliki sensitivitas terhadap masalah lingkungan. Jerinx mengungkapkan, upaya pembersihkan sampah itu sebagai cara untuk menyentil pemerintah. Menurutnya, selama ini pemerintah selalu gembar-gembor soal clean and green, tapi hasilnya nihil.

"Tapi faktanya clean and green itu yang ada uangnya saja seperti proyek reklamasi. Jadi itu hanya kedok untuk mencari uang. Dengan cara ini, kami ingin mempermalukan pemerintah, mengapa rakyat jelata yang bayar pajak saja mau membersihkan sampah. Ke mana pajak kami?" tanya Jerinx.

Ia berharap permsalahan sampah di Pantai Kuta dapat teratasi. Ia berharap pemerintah serius menanggulangi sampah yang menjadi ancaman serius bagi Pantai Kuta.

SID yang hadir lengkap dengan seluruh personel yakni Jerinx, Eka Rock dan Bobby Cool mengajak outsider dan lady rose, sebutan penggemar SID, untuk terus memperhatikan lingkungan.

Kegiatan ini diberi nama Kuta Beach Clean Up dengan mangajak masyarakat ikut peduli, termasuk komunitas lainnya, diantaranya pecinta klub sepakbola AS Roma atau Romanisti, dan perkumpulan mobil Volk Wagen (VW).(Des)

Kamis, 09 April 2015

style rockabilly 

Rockabilly adalah salah satu gaya paling awal dan paling berpengaruh dalam musik rock n' roll yang muncul pada tahun 1950-an. Elvis Presley adalah bintang rockabilly yang paling terkenal. Walaupun hanya berlangsung singkat selama tahun 1950-an, gaya bermusik rockabilly berpengaruh besar terhadap musik rock dan budaya populer. Pada akhir tahun 1970-an dan awal 1980-an, rockabilly bangkit kembali dan bertahan sebagai sub-budaya hingga sekarang.

Credit to Owner
hbd gus de



    REKLAMASI VS REVITALISASI

    Warga Pulau Bali, belakangan lekat sekali mendengar istilah reklamasi dan revitalisasi. Kata reklamasidiakrabi lebih awal sejak isu reklamasi terhadap Teluk Benoa berhembus medio 2012. Sejak mulai terdengar ke publik, megaproyek reklamasi Teluk Benoa telah memicu pro dan kontra, menjadi perbincangan hangat di bale banjar hingga ke segala sudut pulau.
    Bentuk-bentuk penolakan pun mewujud dalam baliho-baliho penolakan yang dipasang di segala sudut kota. Namun, muncul aksi tandingan yang ‘menjual’ wacana revitalisasi Teluk Benoa. Seakan tak mau kalah, baliho dukungan terhadap revitalisasi pun ramai dipasang di segala sudut kota.
    Warga Bali pun jadi bimbang. Yang tadinya menolak reklamasi mulai beralih menyetujui revitalisasi. Ada juga yang teguh menolak reklamasi dan revitalisasi. Akibatnya, perang argumen pun masih berlanjut di masyarakat. Yang teguh menolak beralasan revitalisasi hanya kedok untuk tetap menguruk Teluk Benoa. Sementara itu, yang setuju mengajukan alasan revitalisasi bagus untuk perekonomian warga.
    Reklamasi dan revitalisasi sebenarnya menjadi kata baru dan asing buat warga Bali. Reklamasi dalamKamus Besar Bahasa Indonesia bermakna ‘usaha memperluas tanah (pertanian) dengan memanfaatkan daerah yang semula tidak berguna (misal dengan cara menguruk daerah rawa-rawa)’. Dalam terminologi tata lingkungan, reklamasi dimaknai sebagai pekerjaan atau usaha dalam pemanfaatan suatu kawasan atau lahan yang tidak berguna dan berair untuk dijadikan lahan yang berguna dengan cara dikeringkan. Di lain hal, KBBI memberi makna revitalisasi sebagai proses, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali.
    Karena digemborkan setelah isu reklamasi banyak mendapat tentangan, revitalisasi hanya dipandang sebagai pengalihan atau penghalusan untuk rencana reklamasi Teluk Benoa. Memang sering kali pemerintah atau pihak-pihak yang berkepentingan menggunakan permainan kata untuk mencapai tujuan. Satu contoh yang masih lekat di ingatan kita ialah cara pemerintah Orde Baru dalam menyebut ‘penaikan harga BBM’ dengan istilah ‘penyesuaian harga’. Contoh lain, istilah ‘dirumahkan’ yang kerap didengungkan pengusaha kala memecat buruhnya.

kebersamaan saat membuat tugas

Senin, 06 April 2015

Hajimemashite
Watashi no namae wa Dedy
Tabanan karakimashita

Yoroshiku Onegaishimasu ^^